FC Barcelona
Talipati_ : "Whatever you give to life, it gives you back. Do not hate anybody. The harted which comes out from you will someday comeback to you. Love others. And love will comeback to you . . ."
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Renungan. Tampilkan semua postingan

Jumat, 20 Mei 2011

Sebuah Renungan Dari Ali Bin Abi Thalib


Mengutip kata-kata dalam isi surat Ali bin Abi Thalib kepada Abdullah bin Abbas :
    "Amma ba’du... Acapkali manusia merasa gembira disebabkan ia memperoleh sesuatu yang sebenarnya memang sudah pasti takkan luput darinya. Dan ia bersedih hati atas luputnya sesuatu yang sebenarnya memang sudah pasti takkan mencapainya.
    Maka jadikanlah kegembiraanmu hanya pada apa saja yang kau peroleh untuk kehidupan akhiratmu. Dan jadikanlah kekecewaanmu hanya atas kehilangan bagianmu dari akhiratmu pula.
    Apa saja yang kau peroleh dari duniamu, janganlah engkau merasa terlalu senang karenanya. Dan apa saja yang terluput dari duniamu, janganlah kau sampai diliputi keputusasaan yang mematikan, karenanya. Dan hendaknya keprihatinanmu hanya kau tujukan kepada apa yang akan terjadi sesudah mati semata-mata."
Sebuah untaian kata-kata yang terangkai dalam beberapa kalimat yang menarik dan memiliki makna yang mendalam, dan ini patut dijadikan sebuah renungan bagi kita semua yang kini hidup di dunia dan menunggu sebuah kematian.

Sumber :
Mutiara Nahjul Balaghah: Wacana dan Surat-surat Imam Ali r.a
Penerbit Mizan, Bandung, cetakan pertama pada Syawal 1411/Mei 1991
Yang diterjemahkan dari :
Nahjul Balaghah, oleh Syaikh Muhammad Abduh 
Mathba’ah Al-Istiqamah, tanpa tahun
 
>> read more..

Minggu, 08 Mei 2011

Merasa Benar Dan Merasakan Kebenaran..

Dalam perjalanan pulang setelah sekian lama gak ketemu orang tua, pulang kali ini pun terpaksa dan cukup memaksa, karena keadaan dan posisi hierarkhi sebagai anak kepada orang tua yang dalam kesulitan. Tapi kalau pun bukan orang tua pun seharusnya aku tetap datang karena tanggung jawab sebagai makhluk yang sama-sama ingin merasakan kebahagiaan. Ah… tapi itu terlalu naif mikir terlalu sentimentil dan sok pahlawan. Kalo orang mau melakukan hal yang gak worthed ato gak berhubungan sama kehidupan kita ngapain capek-capek berkorban…? Begitulah seharusnya kita berpikir atau itu merupakan pikiran yang salah?

Susah berpikiran benar dalam arti yang sebenarnya, karena yah itu tadi kebenaran sekarang kan berdasarkan kesepakatan dan kebiasaan, sesuatu yang baik kalo gak biasa ya dibilang salah dan malah dikucilkan, tapi sebaliknya yang salah kalo dah biasa malah dibudayakan. Apa hal itu juga bisa dibilang salah? Kalo diamati, memang setiap makhluk termasuk setan pun pengen hidup bahagia, tapi kadang kita gak menyadari kalo kita terlalu ingin membahagiakan diri sendiri, yang lebih tepatnya ke arah nafsu dan keinginan pribadi. Seorang bijak berkata kepadaku : “Walopun tiap orang diberi satu gunung emas pun masih belum cukup”. Sepintas mikir juga, “masak sih satu gunung masih belum cukup?”. Tapi berdasarkan pengamatan dan pengalaman hal itu bisa dibuktikan dengan persamaan berikut : Kebutuhan anak SD beda dengan kebutuhan Mahasiswa. Kalo kita inget dulu sewaktu SD kita liat anak SMP kita pengen cepet SMP, tapi setelah masuk SMP liat anak SMA, terjadi begitu lagi, begitu seterusnya sampai akhirnya telah memiliki pekerjaan tetap yang padahal juga lebih untung dibanding yang lain.

Contoh lain, dengan variabel yang sama yaitu manusia, tapi dengan konstanta atau titik awal yang berbeda yaitu harta, kekayaan, derajat, dan kepemilikan yang lainnya, jika diberi input yang sama maka akan menghasilkan output respon yang berbeda. Contoh tukang becak sama Dokter. Bagi tukang becak karena status sosial yang rendah dan tiap rupiah adalah sangat berharga bagi beliau, maka mereka tidak akan berpikir tentang derajat, kedudukan, pengakuan yang berlebih karena bagi mereka yang penting hidup gak kelaparan sudah cukup. Mungkin suatu saat beliau-beliau akan bermimpi setingkat lebih tinggi dari kemampuan mereka: “Seandainya aku bisa menang lotere atau nemu gunung emas pasti hidupku akan berkecukupan dan pasti bahagia…”. Itu pikiran yang wajar bagi mereka karena belum merasakan kemewahan dan teknologi yang begitu banyak, apakah benar dengan menyimpan uang yang banyak mereka cuman akan memakainya seperti kebutuhan sebagai tukang becak? Ingat variabel yang kita pakai adalah manusia yang tidak terbebas dari keinginan dan nafsu.

Berbeda bagi kehidupan seorang dokter, yang bersaing dengan dokter lain dan memiliki status atau bisa dibilang kasta yang lebih terhormat dari tukang becak. Simbol-simbol kehidupan mungkin sangat berpengaruh sehingga standar-standar tertentu harus dipenuhi dengan penghasilan yang dia dapat pada waktu yang sama dengan penghasilan tukang becak tadi. Yang dipikirkan seorang dokter pada waktu t=0 pasti akan jauh lebih banyak daripada tukang becak disamping tugasnya sebagai seorang dokter. Kredibilitas dokter mungkin akan tampak dari penampilan luar seperti gelar,tempat praktek, mobil, rumah, dsb. Berbeda dengan Pak becak dimana kejujuran dan semangat yang menjadi parameternya karena itu harta yang mereka punya. Yah bukannya berarti tukang becak lebih baik daripada dokter dan sebaliknya, sekali lagi parameter variabel yang digunakan adalah manusia yang tak bebas dari nafsu dan keinginan.

Sekarang kita asumsikan sang dokter kita beri input yang sama dengan tukang becak tadi diberi gunung emas, dengan penghasilan demikian pikiran yang sama pasti akan terjadi, cukup dan bahagia…

Berapakah batas ukuran materi untuk memuaskan nafsu dan keinginan manusia?

Kembali ke perjalanan dari Kalimantan ke kampung, aku inget saat-saat ketemu orang-orang sepanjang hidup. Kenapa ada orang yang tidak mau disalahkan meskipun dia salah, apakah itu bentuk naluri bertahan, upaya mencapai kebahagiaan, tapi apakah benar mereka yang seperti itu merasakan kebahagiaan, ato hanya kepuasan nafsu sesaat? Mengapa ada orang yang tidak bersalah, selalu disalahkan karena dia bukan orang yang berkuasa, tapi mereka tetap senyum dan bahagia? Apa mereka bodoh atau sudah putus asa?

Bagaimanakah cara mencapai kebahagiaan tanpa kegelisahan?

Kasus-kasus serupa selalu melintas di sepanjang perjalanan, mengenai kegelisahan dan kekhawatiran. Tiba-tiba ada pemikiran spontan yang intinya mengambil kesimpulan dari kasus-kasus itu tadi, aku juga ga tau tuh pikiran dateng dari mana, tapi itu cukup made me smile dan berhenti gelisah :

Merasa benar…dan merasakan kebenaran…

Meskipun aku belum mengerti benar tentang pernyataan itu tapi entah kenapa kok aku merasa aku harus memahami satu kalimat tersebut. Perlahan aku belajar dari orang-orang yang bijak tentang kebenaran tanpa pembenaran, yang terbebas dari unsur nafsu dan ego. Sangat sulit jika diterapkan dalam kehidupan sosial sekarang… tapi cukup diterapkan pada diri sendiri tanpa menuntut orang lain harus melakukannya. Karena kalo harus memaksa orang melakukannya sama seperti membengkokan besi dengan telunjuk.

Yaah, harapanku..
Semoga semua makhluk tidak hanya merasa benar…
Semoga semua makhluk dapat merasakan kebenaran…
Semoga semua makhluk merasakan bahagia…

>> read more..

Kamis, 14 April 2011

Kami Mengajar, Bukan Mengemis..


Dalam banyak cerita, guru selalu dicitrakan sebagai sebuah pekerjaan yang dianggap mulia. Dan saya ingat betul ketika duduk di bangku SD, selalu diceritakan bagaimana sosok guru yang diagung-agungkan sebagai "pahlawan tanpa tanda jasa", benarkah demikian adanya..??

Pekerjaan mendidik dan mengajar anak manusia demi menciptakan sumber daya manusia yang baik secara moral dan memiliki intelektualitas yang tinggi, merupakan tantangan yang sangat sulit dilakukan. Namun, jika menilik sosok guru yang dibilang sebagai pahlawan tanpa tanda jasa, apa mungkin dalam perjalanannya dalam mendidik dan mengajar, seorang guru tidak diperhatikan kesejahteraannya..??

Banyak contoh seringkali dimunculkan oleh media massa tentang bagaimana pengorbanan guru di daerah timur Indonesia, yang masih banyak keterbatasannya dan kesejahteraannya seringkali diabaikan. Dan hal itu ternyata bukan hanya menimpa mereka, banyak guru di daerah timur Kalimantan Barat yang juga mengalami nasib yang sama. Mungkin nasib "Oemar Bakrie" dalam lagu Iwan Fals masih sedikit mujur, gajinya cuma dikebiri, namun nasib guru honor daerah maupun guru swasta disini (daerah timur Kalimantan Barat, red) malah lebih sadis, gaji selama 3 bulan terakhir belum juga dibayar.

Menengok realita di atas, kita tentunya harus realistis. Guru juga butuh makan, butuh biaya untuk menghidupi keluarga mereka dan biaya sekolah anak-anak mereka. Tapi apakah yang terjadi selama ini sudah adil bagi guru..???

Jika kita lihat perkembangan pendidikan di daerah timur Kalimantan Barat beberapa tahun ini mengalami kemajuan yang lebih baik dan signifikan. Bahkan ada beberapa sekolah yang selama 4 tahun terakhir memiliki tingkat kelulusan 100% (contohnya SMK Bina Kusuma, Nanga Pinoh). Dan tentunya kita sepakat, semua itu tidak lepas dari peran serta guru dalam mendidik dan mengajar mereka. Tapi apakah pemerintah daerah maupun lembaga pendidikan swasta pernah berpikir untuk mensejahterakan guru-gurunya..?? Saya kira sangat keterlaluan jika pemerintah daerah maupun lembaga pendidikan swasta hanya menginginkan target kualitas pendidikan namun kesejahteraan guru tidak diperhatikan. Sekali lagi, guru itu bukan sapi perah dan kami mengajar, bukan mengemis..
>> read more..

Rabu, 13 April 2011

Mengubah Metode Pengajaran Yang [Terlanjur] Salah


Bagaimana refleksi hasil pendidikan di Indonesia? Ada sebuah anekdot yang cukup lucu sekaligus ironis untuk menggambarkannya. Konon, ketika seorang anak di China ditanya cita-citanya, mereka menjawab, “Aku ingin menguasai software”. Ketika anak-anak dari India ditanya dengan pertanyaan yang sama, mereka menjawab, “Aku ingin menguasai hardware”. Akan tetapi ketika kita bertanya pada anak di Indonesia tentang ingin jadi apa kelak, muncul jawaban “Nowhere” (tidak kemana-mana).

Selama ini, banyak orang seringkali terjebak dalam pandangan bahwa pendidikan adalah suatu proses yang tidak merdeka dari penjejalan teori tanpa daya kritisi yang cukup kuat. Perkembangan ilmu menjadi stagnan, dan pada akhirnya tidak cukup mampu untuk menjawab permasalahan kontemporer pada masyarakat. Hakikat ilmu dan pendidikan direduksi sedemikian rupa menjadi ajang peraihan gelar formal tanpa dibarengi dengan kecerdasan yang lengkap.

Sebuah pertanyaan seharusnya menggantung di depan jendela berpikir kita, untuk apa sebenarnya pendidikan jika masalah kemanusiaan tetap bercokol di muka bumi? Sudah lama teori “pisah ranjang” dengan realitas. Teori-teori begitu nyaman bersemedi di menara intelektual yang jauh dari harapan bisa membumi. Jurang ilmu eksakta dan sosial menjadi semakin jauh. Ini adalah indikasi bahwa seharusnya sudah sejak lama sistem pendidikan kita mengalami perubahan.

Saya melihat, fokus sistem pendidikan yang berlangsung hingga kini telah keliru. Ujian-ujian di bangku pendidikan sudah terlalu banyak dipenuhi oleh pertanyaan “apa”, padahal pertanyaan “mengapa dan bagaimana” ditinggalkan. Pertanyaan model “apa” menghasilkan generasi hafalan. Sedangkan model “apa, mengapa dan bagaimana” menghasilan generasi yang punya nalar membongkar, mencari dan menyelesaikan sebuah masalah. Berhenti bertanya siapa nama presiden pertama kita, tetapi ajukan siapa, mengapa dan bagaimana dia bisa jadi presiden?

Menurut saya, paradigma baru itulah yang mampu menciptakan perubahan untuk menciptakan lulusan sekolah yang cemerlang. Jika saya mendapat kesempatan untuk memberi kontribusi dalam dunia pendidikan, saya akan menginisiatifkan program pendidikan yang bertujuan agar anak-anak bisa belajar dan mengintegrasikan pelajaran ke dalam realitas sosial disekitarnya. Kita harus melengkapi materi dalam kurikulum yang sudah ada dengan pemahaman mengenai aspek lain yang penting seperti sikap kritis, lingkungan, korupsi, multikulturalisme.

Sikap kritis sangat penting untuk membangun konstruksi teori baru untuk menunjang perkembangan yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Sayangnya, kita tidak melihat banyak sikap kritis yang berkembang di sekolah karena sebagian besar transfer ilmu yang dilakukan berjalan satu arah.  Perspektif lingkungan juga harus ditanamkan sejak dini jika ingin hubungan yang harmonis antara manusia dengan alam makin membaik. Manusia tidak boleh menjadi agen yang mendestruksi alam. Begitu halnya dengan pemahaman mengenai moral dan nilai-nilai luhur yang makin mengalami degradasi dewasa ini. Tak lupa mengenai permasalahan multikulturalisme yang dalam beberapa dekade terakhir menjadi persoalan pelik yang mengancam integrasi bangsa. Di tengah menipisnya solidaritas dan penghargaan keberagaman, kita perlu mengajar anak-anak bahwa perbedaan itu bukan pemisah, tetapi pemersatu.

Mengintegrasikan realitas sosial ke dalam praktik pendidikan akan membuat keluaran pendidikan tidak sekedar menghafal dan tahu lebih banyak informasi pengetahuan, tetapi juga akan sanggup memberi nilai praktis atas informasi yang diperolehnya. Meminjam ungkapan Paulo Freire (1972) yang menegaskan mengajar bukan hanya sekedar memindahkan pengatahuan dengan hafalan. Mengajar tidak dapat direduksi sebagai mengajar untuk mengajar, tetapi mengajar akan berfungsi bila siswa belajar untuk belajar (learn to learn). Artinya, siswa sanggup belajar alasan dan tujuan dari objek dan isi yang dipelajari.

Pendidikan adalah proses panjang yang bertujuan untuk menyadarkan, mencerahkan, memberdayakan dan mengubah perilaku. Sebagai alat penyadaran, pendidikan harus mampu memberi jawaban perbedaan orang sadar dan orang tidak sadar. Sehingga orang bisa responsif terhadap perubahan-perubahan yang terjadi disekitarnya. Sebagai alat pencerahan, pendidikan dituntut mampu membedakan “gelap dan terang”. Sehingga orang yang tercerahkan terbebas dari belenggu kegelapan yang selama ini mendominasi cara berpikirnya. Sebagai alat pemberdayaan, pendidikan harus bisa menjawab beda berdaya dan tidak berdaya. Sehingga orang yang terberdayakan, mampu berkuasa penuh atas dirinya tanpa tergantung dari pihak lain. Sebagai alat pengubah perilaku, pendidikan dituntut mampu menjawab beda perilaku baik dan buruk. Sehingga orang yang berubah perilakunya ke arah positif mampu menghasilkan tindakan sosial yang bermanfaat.

Untuk mengimplementasikan tujuan dibutuhkan metode. Kita akan menggunakan metode pembelajaran hadap masalah yang didalamnya menggunakan dualistic approach yang menekankan interaksi antara anak dan lingkungannya. Perubahan dimaknai sebagai hasil rekayasa timbal balik antara lingkungan dan anak. Oleh karena itu, kita tidak cukup hanya mendidik anak di bangku sekolah. Tetapi juga harus menggunakan sumber-sumber yang ada dalam lingkungan untuk membantu perubahan perilaku. Dalam hal ini kita bisa mengidentifikasi dua sistem sumber yakni sistem sumber informal yang terdiri dari teman sebaya dan orang tua. Kemudian ada sistem sumber institusional seperti pihak sekolah, aparat pemerintahan desa dan pihak terkait lainnya. Semua sistem sumber bergabung bersama kita sebagai dalam kelompok kerja yang disebut sistem pelaksana perubahan. Di dalamnya kita melakukan assestment (diagnosa) permasalahan dan masukan bagi pembelajaran yang akan dilakukan.

Di antara berbagai sistem sumber, yang mendapat porsi terbesar setelah sekolah ada pada orang tua dimana anak pertama kali mendapatkan sosialisasi dan penanaman nilai-nilai untuk pertama  kalinya. Selama program, orang tua akan dilibatkan dalam memantau dan juga ikut serta merangsang perubahan perilaku anak. Di samping itu metode hadap masalah yang akan dijalankan mengandung prinsip-prinsip seperti, memperlakukan peserta didik sebagai orang yang mempunyai potensi, menghormati keunikan individu, belajar sambil bermain, fokus pada kekuatan yang dimiliki, memfasilitasi bukan menggurui secara searah (dialogis), menghormati pendapat, memberi penghargaan dan hukuman yang mendidik, kerjasama, berorientasi pada pemecahan masalah dan prisip setiap anak bertanggung jawab dalam dirinya. Metode hadap masalah ini bertujuan agar anak-anak mengerti apa dan bagaimana pelajaran yang dipelajari bisa digunakan secara praktis di kehidupan sehari-hari.

Selama mengajar, pendidik akan lebih banyak berperan sebagai fasilitator yang mencoba menggali potensi anak-anak didik untuk mengeluarkan pendapat. Diharapkan semua anak tidak takut berpendapat. Pengajaran juga akan terdiri dari tugas-tugas yang menyenangkan dengan penilaian tidak hanya pada hasil ujian melainkan dari keseluruhan pengetahuan, keterampilan dan sikap anak didik. Kita harus berusaha menciptakan image bahwa sekolah itu menyenangkan. Karena pola pengajaran kebanyakan menggunakan metode satu arah dan disertai hukuman. Maka, sangat wajar, sekolah dimaknai sebagai kegiatan mencari nilai semata dan agar terhindar dari hukuman.

Memang penyadaran, pencerahan, pemberdayaan dan perubahan perilaku bukan proses satu atau dua tahun. Begitu banyak tantangan yang akan dihadapi. Kita sedang “bekerja dengan” dan bukannya “bekerja untuk” manusia yang mempunyai daya cipta.  Proses belajar merupakan proses seumur hidup. Namun, kita juga tidak cukup hanya melempar kata. Kita harus tetap mengayun langkah. Karena, bagaimanapun perjalanan seribu mil tidak akan ada jika tidak dimulai dari langkah pertama.
>> read more..